Waktu kecil gua beranggapan bahwa tokoh kartun itu nyata dan mereka hidup layaknya kita manusia, gua mengira mereka itu cuma beda ras doang, kaya gua ngeliat orang india, bule, arab, cina, beda tampilan luarnya aja, dan gua juga merasa bahwa puppet2 di Muppet Show juga bernyawa seperti layaknya manusia, bahwa mereka ga ada bedanya dengan artis film yang dikontrak dan bekerja untuk menghibur gua waktu kecil dilayar tipi, bahwa Kermit The Frog memang adalah owner dari pagelaran Muppet Show, bahwa kegiatan backstage adalah reality show dari kehidupan aktris2 dan aktor2 Muppet Show, jadi ngga ada yang dibuat2 termasuk kejadian2 lucu di acara masak atau bom meledak di labnya si gundul pake kacamata, nama2 karakternya udah banyak yg gua lupa, paling Miss Piggy, sama Kermit yg gua masi inget, sama animal si penabuh drums yg pake kalung anjing....tapi figur2 mereka masih signifikan melekat di kepala gua.....
Sekarang nonton acara tipi isinya dubbingan semua dan terus terang nonton film dubbingan itu buat gua menyebalkan sekali, kecuali untuk film mandarin dan Jepang gua banyak sekali dikecewakan sama hasil dubbingan orang sini, tapi kalo boleh milih sebenernya gua lebih seneng kalo pake subtitle aja daripada di dub......okelah suaranya mirip....tapi jokes2nya nggak kena kalo di indonesia-in, dan pernah denger nyanyian di convert ke bahasa indonesia dengan (berusaha) menggunakan notasi yg sama dengan aslinya....nauzubillah.....contohnya? Blue's clues......gua kira mereka akan menyerah dengan membiarkan lagu/nyanyiannya bersih dari dubbing, tapi nyatanya??? stem dulu mas suaranya....notasinya pun berantakan....Greget dari apa yang si karakter mau sampaikan gak kena, bahkan maksudnya bisa kabur, karena emang kalo gua bilang ada beberapa idiom bahasa inggris kalo di indonesia-in jadi absurd...eh malah dihajar juga di translate secara harfiah......
dulu waktu masi tinggal di kelapa gading gua seneng bgt nonton film kartun dari cartoon network atau nickelodeon, yang banyak gua suka emang kebanyakan dari nickelodeon.... favorit gua Hey Arnold!! ide tentang cerita sekumpulan anak2 kelas 4 SD dengan lingkungan sub-urbannya dengan mengkonsentrasikan kisah2 karakter si "football head" (hey,...kalo gua indonesia-in kepala bola rugby, ga enak kan?) konsepnya bagus sekali kalo gua bilang dan harusnya jadi tontonan wajib anak2 SD disini, kenapa? soalnya film itu seperti mengajak yg nontonnya untuk tetap berpikir sebersih anak kecil yang ngotot ngejar apa yg dia pengen, apa yg dia yakini akan sebuah parameter kebahagiaan, sudut pandangnya yang jujur, oke... emang 80% happy ending, tapi ga masalah, ...... penyampaiannya bagus, gua ga selalu berorientasi pada output dari filmnya, tapi proses penyampaian maksudnya bagus bgt, cerita tentang bully, tekanan disekolah, PR yang numpuk, science project, membela role model, ada juga kisah tentang courage, stand up for yourself, being honest, lugas sekali karakter2nya berinteraksi, dan gua beranggapan pake media kartun itu kena bgt untuk nyeritain hal2 bginian....
serial kartun itu sangat menyentuh gua dan mungkin ikut andil dalam pembentukan gua secara individu sampai sekarang ini, efek secara langsungnya mungkin gua ngerasa menolak untuk tua secara mental, dan gua punya perspektif kalo menjadi orang tua itu menyebalkan sekali, society punya tuntutan buat orang tua untuk jaim, untuk ga banyak petakilan, berwibawa dan ....ah pokoknya menyebalkan sekali ketika ke kawinan harus pake batik rapi2 dan mesti pake sepatu kulit buaya itu, ketika ga bisa kunci2an sama anak kecil dipinggir jalan, ga bisa maen silat sayur ditrotoar atau dilapangan komplek, jajan paddle pop aja mungkin orang lain akan menyambutnya dengan kernyitan didahi....society begitu kejamnya...waiting to shatter my dreams to little pieces....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar